Latest Tweets:

"The Flu Game"

menyambung artikel dari pcfheaven.tumblr.com , tentang Michael Jordan inilah “Michael Jordan The Flu Game” , enjoy  :)

*1
pcfheaven:

BESOK
4 Februari 2011
Jakarta, Indonesia
Besok saja deh!!!
Saya melihat jam tangan saya, pukul 06:30 sore.
Badan berasa capek banget setelah beberapa meeting seharian. Di tas saya sudah siap semua peralatan gym saya. Di hati saya sayangnya tidak ditemukan niat untuk gym hari ini. Saya punya target pribadi menurunkan berat badan saya 6 kilogram, yah untuk memperbaiki bentuk tubuh saya, maklum persiapan menikah.hehehe.
Tetapi hari ini terasa melelahkan sekali, niat saya untuk gym saya urungkan dulu ya. Saya mau pulang saja istirahat. Selalu ada alasan untuk skip gym. Nanti kalau saya terlalu capek dari gym, saya bisa sakit. Besok saja bisa.
 
Besok…
——————————————————————————————————————————————————————
10 Juni 1997
Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat
  
 
Jam 3 pagi. Dia terbangun. Perasaan dia sangat-sangat tidak nyaman. Dia berkeringat dingin. Pusing. Berkunang-kunang. Serasa ada api yang bergejolak di perutnya. Kakinya mengigil luar biasa. Yang dia paling takutkan terjadi. Dia sakit. Dia tidak fit.
 
Langsung dia menelpon seseorang. Setelah beberapa saat seseorang masuk. Mukanya sangat  panik. Dia membawa peralatan medis untuk melakukan diagnosa. 
”Mike?..apa yang terjadi..?”..Dia menceritakan kondisinya dan sang tamupun melakukan tugasnya. Tensi darah, termometer dan cek mata. Lalu tiba-tiba si sakit bangun bergegas ke toilet dan memuntahkan sesuatu. Si petugas medis lalu menelpon. 
”Coach Phil..saya ada berita yang amat amat buruk…saya rasa Michael tidak  bisa bermain besok”
Di ujung sana ada jedah cukup lama…sebelum akhirnya menjawab lesu..”Ok..thanks”.
 
Semua berubah. Kondisi satu orang tersebut ternyata mempengaruhi banyak hal.
Dari mual dan demam satu orang merambah menjadi kepusingan bagi orang lain.
 
Coach Phil Jackson, kepalanya mulai pening. Dia memandang board strategi basket Chicago Bulls. Dia harus kehilangan pemain terbaiknya di pertandingan paling penting tahun ini. 1997 NBA Finals. Game 5.
Dalam NBA Finals, yang menjadi juara NBA adalah yang mencapai 4 kemenangan terlebih dahulu. Saat ini skornya seri, 2 kemenangan untuk Chicago Bulls dan 2 kemenangan untuk tuan rumah Utah Jazz. Yang menjadi masalah adalah Bulls kalah dalam 2 pertandingan terakhirnya di Salt Lake City, itupun dengan Michael Jordan bermain dalam kondisi fit.
Apalagi tanpa Michael Jordan yang sakit, kegagalan mulai menghantui saat membayangkan bila Utah Jazz bisa menang dalam game 5 besok, membuat skor menjadi 3-2 untuk Jazz dan sangat mungkin Bulls akan kehilangan gelar juara bertahan mereka.
Michael Jordan ternyata menderita serangan virus sebagai akibat keracunan makanan. Berita Michael Jordan sakit menyebar dengan segera. Wabah itu menyebar dengan dua efek berbeda. Utah, tempat terjadinya keracunan diliputi suasana euforia gembira. Mereka berkata. This is it! Saat mengalahkan dominasi Bulls dan menjadi juara baru. Di Chicago, efeknya lebih mengerikan. Hampir semua pesimis. Beberapa mulai pasrah. Beberapa bersiap diri melihat trofi NBA diboyong ke Utah Jazz. This is it!. Bye bye..
.
Michael diharuskan istirahat. Dia divonis tidak bisa ikut bermain Game 5 besok. Dia bahkan tidak bisa mengikuti latihan ringan. Setiap makanan dimuntahkan. Setiap minuman akan keluar dalam bentuk diare. Dia harus bedrest selama minimal 2 hari. Chicago Bulls dipastikan tidak bisa memainkan tanduk tertajamnya. Semua analis sport dan wartawan sudah menjatuhkan vonis kepada Chicago Bulls. Kalah.
 
Saya jadi ingat pas saat sekolah dulu (biasanya) paling senang saat kita didiagnosa sakit dan istirahat di rumah. Alasan sakit paling mudah digunakan saat beban kerja dan beban masalah sudah terlalu berat. Pemakluman.
 
Michael tetap berusaha untuk tidur. TV yang menyala tanpa suara dikamar hotelnya menceritakan highlight karier dan kehebatan dia.
20 April 1986, saat Michael dalam tahap awal kariernya. sehabis cedera patah kaki, Michael mencetak 63 angka dalam pertandingan melawan Larry Bird, sang legenda Boston Celtics. Larry Bird saat itu sampai mengakui bahwa ada ”Tuhan” yang menyamar dalam diri Michael Jordan.
28 Maret 1990. Michael membungkam Cleveland Cavaliers dengan rakusnya mengemas 69 angka di kandang lawan. SENDIRIAN.
5 Juni 1991, sebagai junior dia membuat 13 tembakan masuk berurutan untuk mengalahkan sang senior Magic Johnson dalam seri NBA Final pertamanya.
3 Juni 1992, Michael Jordan membuat bingung dunia dengan mencetak 6 tembakan 3 angka dalam waktu setengah pertandingan dan membuat seniornya Clyde Drexler mengalami mimpi buruk dalam NBA Final melawan Portland Trailblazers.
Michael tertidur. Dia tahu dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Besok mungkin berbeda. Besok.
 
11 Juni 1997
Salt Lake City, Utah. Amerika Serikat
 
Semua pemain Chicago Bulls siap untuk berangkat ke Delta Center, neraka yang disiapkan buat mereka. Mereka masih menunggu keajaiban apakah sang raja sudah fit. Ternyata masih belum. Mereka tahu tidak ada hal lagi yang bisa dilakukan. Mereka akan merelakan hari ini. Besok pada pertandingan keenam saja mereka mencoba menang. Hari ini mereka tahu mereka akan berjuang. Tetapi bila kalah ya wajar, di kandang Jazz, menghadapi sang MVP Karl Malone, tanpa Michael Jordan. Semua alasan valid.
 
Saya sering menciptakan alasan-alasan valid seperti itu, saat melihat semuanya tidak mungkin dihadapi. Kita berkata mungkin besok. Kita sudah kehilangan energi untuk memenangkan pertandingan yang belum dimulai. Besok saja. Besok mungkin lebih baik tanpa kita berusaha sekarang. 
 
Jam 3:00. Michael terdiam. Dia tidak merasa lebih baik. Tetapi dia memaksakan diri untuk berangkat ke Delta Center. Dia mandi. Dia mengenakan jasnya dan mengambil semua peralatannya. Dia akan bertanding hari ini. HARI INI. Bukan besok.
 
Jam 6:00, satu jam sebelum jump ball pertandingan Michael tiba di Delta Center. Media kaget. Tidak siap akan kehadiran dia. Elvis is entering the building. Michael tidak berkata apa-apa kepada media. Virus masih menguasai fisik dia. Michael masuk ke Locker Room Bulls. Mereka semua bahagia, tetapi tahu ekspektasi yang diharapkan. Scottie Pippen yang paling mengenalnya berpikir dalam hatinya: Man, he looks so bad. It’s not ordinary Michael.
Michael minta izin tidak ikut briefing.  Dia hendak menyendiri di dark room, ruangan khusus konsentrasi yang disiapkan bagi atlit. Di situ dia berbaring. Disitu dia berkonsentrasi dengan pikirannya. Memanggil semua kapabilitas dan skill yang ada dalam jaringan tubuhnya. Mengkoordinasikan semua syaraf dan insting bermain dia. Semua yang diperoleh dari hasil latihan keras dia selama 13 tahun karir di NBA.
Michael Jordan adalah produk luar biasa dari rumus biasa. Latihan.
Michael Jordan adalah orang yang paling awal tiba ditempat latihan dan pulang terakhir, sejak masa SMA. Michael mengawali paginya dengan sarapan yang sehat lalu makan siang bergizi tinggi dan makan malam yang bernutrisi. Setiap hari.
Michael berlatih setiap hari. Saat awal latihan dia tidak pernah lupa dengan peregangan. Lalu dia mengawali porsi latihan dengan lari beberapa kilometer, angkat beban di gym dan berlatih tanding dilapangan basket. Setiap hari.
Sebagai superstar NBA, banyak yang memilih menikmati kehidupan malam bagai selebritis di klab-klab malam, Michael memilih untuk tidur lebih cepat menjaga fisiologi dan mental tubuhnya. Setiap hari.
Setiap hari, itulah yang seorang Michael Jordan lakukan. Selama lebih dari 18 tahun.
Saya melihat banyak orang yang berharap sukses/ berhasil tetapi lupa untuk membangun disiplin dalam sikapnya. Mereka mengindahkan proses yang painful dan membosankan. Mereka ingin akrab dengan kesuksesan tetapi alergi terhadap proses pengembangan disiplin yang mutlak diperlukan.
Ada rumus dalam hidup yang saya pelajari akhirnya: we lose what we don’t manage.
Michael menyadari bahwa dia dapat kehilangan semua kehebatan dia bila dia tidak mengelolanya dalam aktivitas aktivitas yang sangat penting dan terlihat sepele, membosankan dan menyakitkan.  
Disiplin bisa berarti melakukan hal yang tidak kita suka tetapi hal tersebut untuk mampu melakukan hal yang diperlukan. Saya kadang bisa bersikap seperti orang gila. Saya skip gym saya hari ini, makan normal seperti biasa dan berharap melihat timbangan saya ada penurunan berat badan. Well, dalam hal ini saya orang gila. Hanya orang gila yang berharap bisa melakukan sesuatu hal yang sama dan berharap ada yang perubahan.
Jordan sadar akan hal itu. Dia berkonsentrasi. Dia tidak mau membiarkan Utah menang hari ini. Tidak ada kata besok untuk Chicago Bulls. Michael berharap semua investasi yang dia lakukan dalam latihan bertahun-tahun dia dapat dia klaim hari ini. Dia membutuhkannya. Chicago Bulls membutuhkannya. Hari ini. Bukan Besok.
 
Dia keluar dari ruangan, seperti foto yang sempurna cemerlang setelah diproses di kamar gelap. Dia siap. Dia tahu dia telah melewati banyak latihan-latihan yang dia lakukan di ruang tertutup/ tidak dilihat orang yang harus dia lakukan untuk bisa perform pada hari ini dan memancarkan pesonanya di banyak orang nanti.
 
07:00 PM Jump Ball
Lagu kebangsaan dinyanyikan. Tanda fans Jazz siap berpesta. Mereka melihat Michael Jordan namun mereka tidak takut. Dalam dua pertandingan sebelumnya Jordan yang fit saja tidak bisa mengalahkan Utah Jazz, apalagi sekarang?
 
Utah Jazz bersiap. Sang pemain terbaik NBA tahun ini, Karl Malone lebih dari siap. Bila dia bisa mengalahkan Jordan dalam pemilihan pemain terbaik NBA tahun ini, dia juga bertekad mengalahkan dia malam ini. Dalam dua pertandingan terakhir mereka mendominasi. Mereka siap. Hari ini. Dalam empat kuarter pertandingan.
 
Kuarter Pertama.
Permainan dimulai. Analisa komentator tidak salah. Akurat. Pertandingan seperti empat Bulls melawan lima Jazz. Jordan berjalan gontai. Dia berjalan dalam 65% kecepatan normal dia. Pembantaian. Jordan tidak bisa berbuat apa-apa. Jazz unggul dalam perbedaan 16 angka. Jordan terduduk lesu di bench. Dia sangat lemas. Dia tidak mampu makan steak dan kentang yang biasa dia makan saat fit sebelum pertandingan. Untuk melawan kantuk dia minum banyak kopi yang ternyata membuat dia dehidrasi. Dia tetap mau bermain. Dia sudah berdisiplin sejak lama. Untuk hari ini.
 
Kuarter Kedua
Doa Chicago Bulls mulai terjawab. Jordan mulai mengeluarkan semua insting dan kemampuannya. Dia mencetak 17 angka. Tipikal Michael Jordan yang dominan mulai muncul. Fans Jazz tersedak. Utah Jazz tersentak. Michael Jordan sudah kembali? Bulls mulai melihat secercah harapan. Jazz melawan dengan sengit. 53-49 skor akhir kuarter kedua untuk Jazz.
 
Masa istirahat 14 Menit
Jordan dipaksa minum, diberikan handuk basah dan disupport oleh teman-temannya. Jordan masih sangat lemas. Dia ingin sekali tidur dan istirahat. Tetapi itu bisa Besok. Hari ini harus selesai lebih dahulu. Hari ini. Bukan besok.
 
Kuarter Ketiga.
Tidak percuma dukungan fans Utah Jazz. Jordan kembali sakit dan lemas. Skenario empat lawan lima terulang kembali. Jordan kehilangan banyak peluang dan gagal memasukkan tembakan-tembakannya. Karl Malone, John Stockton dan Jeff Hornacek membombardir Bulls. Bulls bertahan dengan semua daya dan upaya. Keunggulan 77-69 untuk Jazz di akhir babak ketiga.
 
Kuarter penentuan-kuarter Empat.
Semua mata Chicago Bulls memandang Jordan. Semua fans Chicago Bulls di seluruh dunia memandang wajah yang sama. Dapatkah dia menyelamatkan hari ini? Atau serahkan besok saja. Semua alasan sakit akan diterima wajar kok. Michael bangkit, keringat dia mengucur luar biasa deras. Mata dia tetap fokus pada pertandingan.
 
Dia menggila, dengan semua insting dan skill yang dia bangun dalam ruang latihan dulu, Michael Jordan menjadi orang gila. Dia memimpin Bulls mengejar 10 angka tanpa balas termasuk tembakan 3 angka dan melakukan dunk untuk membuat Jazz ketinggalan pertama kalinya. 79-77 untuk Chicago Bulls. Jazz mulai panik. Pertandingan 7 menit lagi.
Jordan yang sakit tanpa terasa telah mencetak 33 angka, hampir setengah dari 79 angka total sebelas rekan lainnya di Chicago Bulls yang fit dan sehat.
 
Pertandingan berlangsung sengit. Tinggal 3 menit dan 7 detik lagi. John Stockton memandu Delta Center bergemuruh dengan menembak 3 angka dan membuat keunggulan Utah Jazz berbalik menjadi 84-81. Mereka nampaknya tidak terima dikalahkan oleh satu individu yang keracunan. 
 
Michael Jordan merespon tantangan itu. Dia mencetak angka lagi. 84-83 masih untuk keunggulan Utah Jazz. Utah Jazz membalas mencetak angka melalui free throw. Bulls membalas lagi. Aksi saling berbalas ini terus berlangsung sampai 26 detik terakhir. Skor seri 85-85.
 
26 detik lagi. Semua mata memandang Michael Jordan. Jordan, kelelahan, dehidrasi, suasana perut yang bergejolak. Berkunang-kunang. Jordan berkata pada dirinya. Hari ini. Bukan besok. Pippen memegang bola, dijaga ketat Hornacek. Pippen hendak memberikan bola kepada spesialis tiga angka mereka, Steve Kerr yang ternyata juga dijaga ketat. Pippen tidak ada pilihan lain. Memberikan pada yang terbaik. Michael Jordan, yang sedang dalam kondisi terburuk.
 
Jordan sudah terlalu lelah. Dia tidak mampu menerobos untuk menembak jarak dekat. Byron Russel menjaganya dengan ketat. Tidak mungkin orang sakit ini menembak tiga angka lagi. Sudah terlalu lelah, pikirnya. Ternyata Byron salah.
Michael melompat, menembak tembakan jarak jauh tiga angka. Matanya berkunang-kunang, tetapi dia yakin dan tahu hasil latihannya yang dilakukan dalam jam-jam membosankan di gym akan terbayar mahal hari ini. Instingnya akan memadunya.
 
Bola masuk, tiga angka untuk Bulls. 88-85. Pisau itu menusuk jantung Utah Jazz.
 
Utah Jazz panik, mereka membalas. Ostertag melakukan dunk. Point untuk Jazz. 88-87 untuk Bulls. Bulls kembali mencetak angka melalui Luc Longley, 90-87. Jazz mencoba memanfaatkan 6 detik tersisa, Jeff Hornacek menembak tiga angka. Gagal. Bulls menang.
 
Michael Jordan langsung tersungkur lesu. Dipapah oleh Scottie Pippen sahabatnya. Sang Raja melakukannya lagi. Menciptakan legenda terang benderang yang akan diingat oleh beragam generasi. Legenda yang dibangun di ruangan latihan dan tidak terlihat orang dalam kedisiplinan latihannya.
 
Semua analis dan komentator sport bengong, mereka melihat angka statistik permainan Michael Jordan. Kewarasan logika analisis mereka ditantang oleh seseorang yang ”sakit”. Bermain 44 menit dari total pertandingan 48 menit, Michael yang sakit mencetak 38 angka, dua kali tembakan tiga angka. Akurasi tembakan hampir 50%, mencetak lompatan pantulan 7 rebound dan mencetak 5 assist dengan akurasi tembakan bebas 83%. Angka yang fantastis.
 
THE FLU GAME. Demikian dunia olahraga mengingatnya. Perasaan mual timbul. Bukan pada Jordan, tetapi pada para fans Utah Jazz di seluruh Delta Center. Mereka terdiam. Sunyi senyap. Stadion basket yang dinyatakan paling bising di Amerika itu terbisu menyaksikan kehebatan seseorang yang sakit. Mereka pulang dalam keadaan tidak nyaman. Pusing. Racun itu menjalar dan sekarang berpindah sisi. Mereka akan marah melihat headline  koran besok. Sick Jordan creates fever in Utah.
 
Michael tersenyum. Dia tahu hasil latihannya selama ini, sejak SMA terbayar lunas. Insting dan skill itu menempel pada dirinya walau dia sakit secara fisik tetapi badannya tidak bisa menolak hasil positif latihan dan disiplin keras yang dia tempuh setiap hari. 
 
Michael tahu, gelar Chicago yang kelima akan aman. Pertandingan berikutnya akan dilaksanakan di Chicago, didepan pendukungnya. Dia sekarang bisa beristirahat dan tidur dalam pengobatan karena waktu dua hari cukup. Dia akan tidur panjang di pesawat. Dia akan istirahat dirumah.Besok.
——————————————————————————————————————————————————————
2007
Champs de Ellyses,Paris, Perancis
 
Lance Armstrong, sang juara Tour De France selama enam kali sedang merayakan kemenangannya. Survivior kanker yang berubah menjadi jawara dunia balap sepeda. Seorang wartawan paham pasti ini karena hasil latihan dia. Apa resepnya ya?
 
Dia bertanya: “Lance, selamat atas gelar juara hari ini. Setelah memenangkan gelar ini, kapan anda akan berlatih untuk gelar berikutnya?”
Lance menjawab enteng:
”Besok.”
 
 
 
ps: Cerita diatas didasarkan oleh kisah nyata dengan dikembangkan beberapa bagian oleh penulis.

pcfheaven:

BESOK

4 Februari 2011

Jakarta, Indonesia

Besok saja deh!!!

Saya melihat jam tangan saya, pukul 06:30 sore.

Badan berasa capek banget setelah beberapa meeting seharian. Di tas saya sudah siap semua peralatan gym saya. Di hati saya sayangnya tidak ditemukan niat untuk gym hari ini. Saya punya target pribadi menurunkan berat badan saya 6 kilogram, yah untuk memperbaiki bentuk tubuh saya, maklum persiapan menikah.hehehe.

Tetapi hari ini terasa melelahkan sekali, niat saya untuk gym saya urungkan dulu ya. Saya mau pulang saja istirahat. Selalu ada alasan untuk skip gym. Nanti kalau saya terlalu capek dari gym, saya bisa sakit. Besok saja bisa.

 

Besok…

——————————————————————————————————————————————————————

10 Juni 1997

Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat

  

 

Jam 3 pagi. Dia terbangun. Perasaan dia sangat-sangat tidak nyaman. Dia berkeringat dingin. Pusing. Berkunang-kunang. Serasa ada api yang bergejolak di perutnya. Kakinya mengigil luar biasa. Yang dia paling takutkan terjadi. Dia sakit. Dia tidak fit.

 

Langsung dia menelpon seseorang. Setelah beberapa saat seseorang masuk. Mukanya sangat  panik. Dia membawa peralatan medis untuk melakukan diagnosa.

”Mike?..apa yang terjadi..?”..Dia menceritakan kondisinya dan sang tamupun melakukan tugasnya. Tensi darah, termometer dan cek mata. Lalu tiba-tiba si sakit bangun bergegas ke toilet dan memuntahkan sesuatu. Si petugas medis lalu menelpon.

”Coach Phil..saya ada berita yang amat amat buruk…saya rasa Michael tidak  bisa bermain besok”

Di ujung sana ada jedah cukup lama…sebelum akhirnya menjawab lesu..”Ok..thanks”.

 

Semua berubah. Kondisi satu orang tersebut ternyata mempengaruhi banyak hal.

Dari mual dan demam satu orang merambah menjadi kepusingan bagi orang lain.

 

Coach Phil Jackson, kepalanya mulai pening. Dia memandang board strategi basket Chicago Bulls. Dia harus kehilangan pemain terbaiknya di pertandingan paling penting tahun ini. 1997 NBA Finals. Game 5.

Dalam NBA Finals, yang menjadi juara NBA adalah yang mencapai 4 kemenangan terlebih dahulu. Saat ini skornya seri, 2 kemenangan untuk Chicago Bulls dan 2 kemenangan untuk tuan rumah Utah Jazz. Yang menjadi masalah adalah Bulls kalah dalam 2 pertandingan terakhirnya di Salt Lake City, itupun dengan Michael Jordan bermain dalam kondisi fit.

Apalagi tanpa Michael Jordan yang sakit, kegagalan mulai menghantui saat membayangkan bila Utah Jazz bisa menang dalam game 5 besok, membuat skor menjadi 3-2 untuk Jazz dan sangat mungkin Bulls akan kehilangan gelar juara bertahan mereka.

Michael Jordan ternyata menderita serangan virus sebagai akibat keracunan makanan. Berita Michael Jordan sakit menyebar dengan segera. Wabah itu menyebar dengan dua efek berbeda. Utah, tempat terjadinya keracunan diliputi suasana euforia gembira. Mereka berkata. This is it! Saat mengalahkan dominasi Bulls dan menjadi juara baru. Di Chicago, efeknya lebih mengerikan. Hampir semua pesimis. Beberapa mulai pasrah. Beberapa bersiap diri melihat trofi NBA diboyong ke Utah Jazz. This is it!. Bye bye..

.

Michael diharuskan istirahat. Dia divonis tidak bisa ikut bermain Game 5 besok. Dia bahkan tidak bisa mengikuti latihan ringan. Setiap makanan dimuntahkan. Setiap minuman akan keluar dalam bentuk diare. Dia harus bedrest selama minimal 2 hari. Chicago Bulls dipastikan tidak bisa memainkan tanduk tertajamnya. Semua analis sport dan wartawan sudah menjatuhkan vonis kepada Chicago Bulls. Kalah.

 

Saya jadi ingat pas saat sekolah dulu (biasanya) paling senang saat kita didiagnosa sakit dan istirahat di rumah. Alasan sakit paling mudah digunakan saat beban kerja dan beban masalah sudah terlalu berat. Pemakluman.

 

Michael tetap berusaha untuk tidur. TV yang menyala tanpa suara dikamar hotelnya menceritakan highlight karier dan kehebatan dia.

  • 20 April 1986, saat Michael dalam tahap awal kariernya. sehabis cedera patah kaki, Michael mencetak 63 angka dalam pertandingan melawan Larry Bird, sang legenda Boston Celtics. Larry Bird saat itu sampai mengakui bahwa ada ”Tuhan” yang menyamar dalam diri Michael Jordan.
  • 28 Maret 1990. Michael membungkam Cleveland Cavaliers dengan rakusnya mengemas 69 angka di kandang lawan. SENDIRIAN.
  • 5 Juni 1991, sebagai junior dia membuat 13 tembakan masuk berurutan untuk mengalahkan sang senior Magic Johnson dalam seri NBA Final pertamanya.
  • 3 Juni 1992, Michael Jordan membuat bingung dunia dengan mencetak 6 tembakan 3 angka dalam waktu setengah pertandingan dan membuat seniornya Clyde Drexler mengalami mimpi buruk dalam NBA Final melawan Portland Trailblazers.

Michael tertidur. Dia tahu dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Besok mungkin berbeda. Besok.

 

11 Juni 1997

Salt Lake City, Utah. Amerika Serikat

 

Semua pemain Chicago Bulls siap untuk berangkat ke Delta Center, neraka yang disiapkan buat mereka. Mereka masih menunggu keajaiban apakah sang raja sudah fit. Ternyata masih belum. Mereka tahu tidak ada hal lagi yang bisa dilakukan. Mereka akan merelakan hari ini. Besok pada pertandingan keenam saja mereka mencoba menang. Hari ini mereka tahu mereka akan berjuang. Tetapi bila kalah ya wajar, di kandang Jazz, menghadapi sang MVP Karl Malone, tanpa Michael Jordan. Semua alasan valid.

 

Saya sering menciptakan alasan-alasan valid seperti itu, saat melihat semuanya tidak mungkin dihadapi. Kita berkata mungkin besok. Kita sudah kehilangan energi untuk memenangkan pertandingan yang belum dimulai. Besok saja. Besok mungkin lebih baik tanpa kita berusaha sekarang.

 

Jam 3:00. Michael terdiam. Dia tidak merasa lebih baik. Tetapi dia memaksakan diri untuk berangkat ke Delta Center. Dia mandi. Dia mengenakan jasnya dan mengambil semua peralatannya. Dia akan bertanding hari ini. HARI INI. Bukan besok.

 

Jam 6:00, satu jam sebelum jump ball pertandingan Michael tiba di Delta Center. Media kaget. Tidak siap akan kehadiran dia. Elvis is entering the building. Michael tidak berkata apa-apa kepada media. Virus masih menguasai fisik dia. Michael masuk ke Locker Room Bulls. Mereka semua bahagia, tetapi tahu ekspektasi yang diharapkan. Scottie Pippen yang paling mengenalnya berpikir dalam hatinya: Man, he looks so bad. It’s not ordinary Michael.

Michael minta izin tidak ikut briefing.  Dia hendak menyendiri di dark room, ruangan khusus konsentrasi yang disiapkan bagi atlit. Di situ dia berbaring. Disitu dia berkonsentrasi dengan pikirannya. Memanggil semua kapabilitas dan skill yang ada dalam jaringan tubuhnya. Mengkoordinasikan semua syaraf dan insting bermain dia. Semua yang diperoleh dari hasil latihan keras dia selama 13 tahun karir di NBA.

Michael Jordan adalah produk luar biasa dari rumus biasa. Latihan.

Michael Jordan adalah orang yang paling awal tiba ditempat latihan dan pulang terakhir, sejak masa SMA. Michael mengawali paginya dengan sarapan yang sehat lalu makan siang bergizi tinggi dan makan malam yang bernutrisi. Setiap hari.

Michael berlatih setiap hari. Saat awal latihan dia tidak pernah lupa dengan peregangan. Lalu dia mengawali porsi latihan dengan lari beberapa kilometer, angkat beban di gym dan berlatih tanding dilapangan basket. Setiap hari.

Sebagai superstar NBA, banyak yang memilih menikmati kehidupan malam bagai selebritis di klab-klab malam, Michael memilih untuk tidur lebih cepat menjaga fisiologi dan mental tubuhnya. Setiap hari.

Setiap hari, itulah yang seorang Michael Jordan lakukan. Selama lebih dari 18 tahun.

Saya melihat banyak orang yang berharap sukses/ berhasil tetapi lupa untuk membangun disiplin dalam sikapnya. Mereka mengindahkan proses yang painful dan membosankan. Mereka ingin akrab dengan kesuksesan tetapi alergi terhadap proses pengembangan disiplin yang mutlak diperlukan.

Ada rumus dalam hidup yang saya pelajari akhirnya: we lose what we don’t manage.

Michael menyadari bahwa dia dapat kehilangan semua kehebatan dia bila dia tidak mengelolanya dalam aktivitas aktivitas yang sangat penting dan terlihat sepele, membosankan dan menyakitkan. 

Disiplin bisa berarti melakukan hal yang tidak kita suka tetapi hal tersebut untuk mampu melakukan hal yang diperlukan. Saya kadang bisa bersikap seperti orang gila. Saya skip gym saya hari ini, makan normal seperti biasa dan berharap melihat timbangan saya ada penurunan berat badan. Well, dalam hal ini saya orang gila. Hanya orang gila yang berharap bisa melakukan sesuatu hal yang sama dan berharap ada yang perubahan.

Jordan sadar akan hal itu. Dia berkonsentrasi. Dia tidak mau membiarkan Utah menang hari ini. Tidak ada kata besok untuk Chicago Bulls. Michael berharap semua investasi yang dia lakukan dalam latihan bertahun-tahun dia dapat dia klaim hari ini. Dia membutuhkannya. Chicago Bulls membutuhkannya. Hari ini. Bukan Besok.

 

Dia keluar dari ruangan, seperti foto yang sempurna cemerlang setelah diproses di kamar gelap. Dia siap. Dia tahu dia telah melewati banyak latihan-latihan yang dia lakukan di ruang tertutup/ tidak dilihat orang yang harus dia lakukan untuk bisa perform pada hari ini dan memancarkan pesonanya di banyak orang nanti.

 

07:00 PM Jump Ball

Lagu kebangsaan dinyanyikan. Tanda fans Jazz siap berpesta. Mereka melihat Michael Jordan namun mereka tidak takut. Dalam dua pertandingan sebelumnya Jordan yang fit saja tidak bisa mengalahkan Utah Jazz, apalagi sekarang?

 

Utah Jazz bersiap. Sang pemain terbaik NBA tahun ini, Karl Malone lebih dari siap. Bila dia bisa mengalahkan Jordan dalam pemilihan pemain terbaik NBA tahun ini, dia juga bertekad mengalahkan dia malam ini. Dalam dua pertandingan terakhir mereka mendominasi. Mereka siap. Hari ini. Dalam empat kuarter pertandingan.

 

Kuarter Pertama.

Permainan dimulai. Analisa komentator tidak salah. Akurat. Pertandingan seperti empat Bulls melawan lima Jazz. Jordan berjalan gontai. Dia berjalan dalam 65% kecepatan normal dia. Pembantaian. Jordan tidak bisa berbuat apa-apa. Jazz unggul dalam perbedaan 16 angka. Jordan terduduk lesu di bench. Dia sangat lemas. Dia tidak mampu makan steak dan kentang yang biasa dia makan saat fit sebelum pertandingan. Untuk melawan kantuk dia minum banyak kopi yang ternyata membuat dia dehidrasi. Dia tetap mau bermain. Dia sudah berdisiplin sejak lama. Untuk hari ini.

 

Kuarter Kedua

Doa Chicago Bulls mulai terjawab. Jordan mulai mengeluarkan semua insting dan kemampuannya. Dia mencetak 17 angka. Tipikal Michael Jordan yang dominan mulai muncul. Fans Jazz tersedak. Utah Jazz tersentak. Michael Jordan sudah kembali? Bulls mulai melihat secercah harapan. Jazz melawan dengan sengit. 53-49 skor akhir kuarter kedua untuk Jazz.

 

Masa istirahat 14 Menit

Jordan dipaksa minum, diberikan handuk basah dan disupport oleh teman-temannya. Jordan masih sangat lemas. Dia ingin sekali tidur dan istirahat. Tetapi itu bisa Besok. Hari ini harus selesai lebih dahulu. Hari ini. Bukan besok.

 

Kuarter Ketiga.

Tidak percuma dukungan fans Utah Jazz. Jordan kembali sakit dan lemas. Skenario empat lawan lima terulang kembali. Jordan kehilangan banyak peluang dan gagal memasukkan tembakan-tembakannya. Karl Malone, John Stockton dan Jeff Hornacek membombardir Bulls. Bulls bertahan dengan semua daya dan upaya. Keunggulan 77-69 untuk Jazz di akhir babak ketiga.

 

Kuarter penentuan-kuarter Empat.

Semua mata Chicago Bulls memandang Jordan. Semua fans Chicago Bulls di seluruh dunia memandang wajah yang sama. Dapatkah dia menyelamatkan hari ini? Atau serahkan besok saja. Semua alasan sakit akan diterima wajar kok. Michael bangkit, keringat dia mengucur luar biasa deras. Mata dia tetap fokus pada pertandingan.

 

Dia menggila, dengan semua insting dan skill yang dia bangun dalam ruang latihan dulu, Michael Jordan menjadi orang gila. Dia memimpin Bulls mengejar 10 angka tanpa balas termasuk tembakan 3 angka dan melakukan dunk untuk membuat Jazz ketinggalan pertama kalinya. 79-77 untuk Chicago Bulls. Jazz mulai panik. Pertandingan 7 menit lagi.

Jordan yang sakit tanpa terasa telah mencetak 33 angka, hampir setengah dari 79 angka total sebelas rekan lainnya di Chicago Bulls yang fit dan sehat.

 

Pertandingan berlangsung sengit. Tinggal 3 menit dan 7 detik lagi. John Stockton memandu Delta Center bergemuruh dengan menembak 3 angka dan membuat keunggulan Utah Jazz berbalik menjadi 84-81. Mereka nampaknya tidak terima dikalahkan oleh satu individu yang keracunan.

 

Michael Jordan merespon tantangan itu. Dia mencetak angka lagi. 84-83 masih untuk keunggulan Utah Jazz. Utah Jazz membalas mencetak angka melalui free throw. Bulls membalas lagi. Aksi saling berbalas ini terus berlangsung sampai 26 detik terakhir. Skor seri 85-85.

 

26 detik lagi. Semua mata memandang Michael Jordan. Jordan, kelelahan, dehidrasi, suasana perut yang bergejolak. Berkunang-kunang. Jordan berkata pada dirinya. Hari ini. Bukan besok. Pippen memegang bola, dijaga ketat Hornacek. Pippen hendak memberikan bola kepada spesialis tiga angka mereka, Steve Kerr yang ternyata juga dijaga ketat. Pippen tidak ada pilihan lain. Memberikan pada yang terbaik. Michael Jordan, yang sedang dalam kondisi terburuk.

 

Jordan sudah terlalu lelah. Dia tidak mampu menerobos untuk menembak jarak dekat. Byron Russel menjaganya dengan ketat. Tidak mungkin orang sakit ini menembak tiga angka lagi. Sudah terlalu lelah, pikirnya. Ternyata Byron salah.

Michael melompat, menembak tembakan jarak jauh tiga angka. Matanya berkunang-kunang, tetapi dia yakin dan tahu hasil latihannya yang dilakukan dalam jam-jam membosankan di gym akan terbayar mahal hari ini. Instingnya akan memadunya.

 

Bola masuk, tiga angka untuk Bulls. 88-85. Pisau itu menusuk jantung Utah Jazz.

 

Utah Jazz panik, mereka membalas. Ostertag melakukan dunk. Point untuk Jazz. 88-87 untuk Bulls. Bulls kembali mencetak angka melalui Luc Longley, 90-87. Jazz mencoba memanfaatkan 6 detik tersisa, Jeff Hornacek menembak tiga angka. Gagal. Bulls menang.

 

Michael Jordan langsung tersungkur lesu. Dipapah oleh Scottie Pippen sahabatnya. Sang Raja melakukannya lagi. Menciptakan legenda terang benderang yang akan diingat oleh beragam generasi. Legenda yang dibangun di ruangan latihan dan tidak terlihat orang dalam kedisiplinan latihannya.

 

Semua analis dan komentator sport bengong, mereka melihat angka statistik permainan Michael Jordan. Kewarasan logika analisis mereka ditantang oleh seseorang yang ”sakit”. Bermain 44 menit dari total pertandingan 48 menit, Michael yang sakit mencetak 38 angka, dua kali tembakan tiga angka. Akurasi tembakan hampir 50%, mencetak lompatan pantulan 7 rebound dan mencetak 5 assist dengan akurasi tembakan bebas 83%. Angka yang fantastis.

 

THE FLU GAME. Demikian dunia olahraga mengingatnya. Perasaan mual timbul. Bukan pada Jordan, tetapi pada para fans Utah Jazz di seluruh Delta Center. Mereka terdiam. Sunyi senyap. Stadion basket yang dinyatakan paling bising di Amerika itu terbisu menyaksikan kehebatan seseorang yang sakit. Mereka pulang dalam keadaan tidak nyaman. Pusing. Racun itu menjalar dan sekarang berpindah sisi. Mereka akan marah melihat headline  koran besok. Sick Jordan creates fever in Utah.

 

Michael tersenyum. Dia tahu hasil latihannya selama ini, sejak SMA terbayar lunas. Insting dan skill itu menempel pada dirinya walau dia sakit secara fisik tetapi badannya tidak bisa menolak hasil positif latihan dan disiplin keras yang dia tempuh setiap hari.

 

Michael tahu, gelar Chicago yang kelima akan aman. Pertandingan berikutnya akan dilaksanakan di Chicago, didepan pendukungnya. Dia sekarang bisa beristirahat dan tidur dalam pengobatan karena waktu dua hari cukup. Dia akan tidur panjang di pesawat. Dia akan istirahat dirumah.Besok.

——————————————————————————————————————————————————————

2007

Champs de Ellyses,Paris, Perancis

 

Lance Armstrong, sang juara Tour De France selama enam kali sedang merayakan kemenangannya. Survivior kanker yang berubah menjadi jawara dunia balap sepeda. Seorang wartawan paham pasti ini karena hasil latihan dia. Apa resepnya ya?

 

Dia bertanya: “Lance, selamat atas gelar juara hari ini. Setelah memenangkan gelar ini, kapan anda akan berlatih untuk gelar berikutnya?”

Lance menjawab enteng:

”Besok.”

 

 

 

ps: Cerita diatas didasarkan oleh kisah nyata dengan dikembangkan beberapa bagian oleh penulis.

*1

Postcards From Heaven: Young On Top ask #YOTask

pcfheaven:

Berikut ini adalah hasil twitter YOT ASK bersama saya yang dikumpulkan oleh my Big and Good friend Daniel Effendi (@danielfnd)…Thanks bro

1. Kabar baik,lagi sibuk kerjaan kantor dan sibuk siap-siap menulis buku berikutnya dan beberapa program coaching. Excited! :)

2. Postcards From Heaven…

travelthisworld:

Alberta, Canada

travelthisworld:

Alberta, Canada

(via henrygerson)

*2

.cookandwrite.: . Warung Kopi .

cookandwrite:

After celebrating Chinese New Year with my family, I’m back to traditional Indonesian delight for dinner with my boyfriend. We came to Warung Kopi, located in Alun Alun Grand Indonesia Mall.

We ordered 2 Indonesian most famous snacks; Pisang Goreng Gula Kering (deep fried banana with caramelized…

The Temper Trap - Fader

great song , great music , love it

*2

Faith.Hope.Love: Karate Kid

Another good movie in this summer.

Kudos to the SMITHs and Jackie Chan!

Here’s some highlighted quotes from the movie.

“Being still and doing nothing are two different things.” - Mr. Han

“Life will knock us down but we can choose whether or not to get back up.” - Mr. Han

“Kung-fu…

Sheding Part 2

31 May 2010

location : Billy Sutanto’s Crib

Drums: Mapex , Pearl Reference , Grison Red

Cymbals : Stagg , Zildjian , Paiste

d’drummers : daniel effendi , billy sutanto , andreas , kevin , judah , adri , rubbin , alvin eka putra , one from Bogor , another daniel , n another one lupa

sheding yang ke 2 kali ini sangattt seruu sekali , karena gak disangka yang dateng hampir 10 orang n ada juga yang dari Bogor , ini sekilas snapshot dari sheding part 2 , im using canon d500 n all foto taken by me kecuali foto gua sndiri :p , ini dia foto2nya ,Enjoy :)

will give u another photo’s from sheding part 3